tembakan itu tepat mengenai sasaran , semua orang
di ruangan itu kaget. kecuali pak komandan , dia memang tak pernah menunjukan
kelemahanya. bahkan ketika makan, dia hanya memakai garpu. namun dia yang
menyelamatkanku dari bencana tsunami di aceh tahun lalu.
prok prok prok
riuh suara tepuk tangan dari anggota lain. seakan
akan dia menjadi yang paling ditakuti. akupun tak mau kalah. aku arahkan
senjataku kesasaran. tampang serius aku pasang , walau setidaknya hatiku
was-was. ini ujianku untuk mendapatkan kasus.
DOORR!!
aku menelan ludah, sebenarnya bukan ludah juga.
tapi permen karet yang aku kunyah dari tadi.
HAHAHAHA
suara orang tertawa. mereka menertawakanku karna
lupa menaruh peluru. aku malu dan langsung saja aku pergi dari tempat ujian.
"Griselda ! tunggu!"
suara si Yuldis terdengar. dia adalah orang tadi,
yang mendapat tepuk tangan meriah.
"Maaf Grey , aku lupa mengisi pelurunya. seharusnya aku lakukan itu ketika selesai menembak. Ini pelurunya"
"tak apa-apa , itu memang salahku tak memeriksa senjata ku" ucapku dengan nada rendah
TOOOET TOOOOET TOOOOOOET PENYUSUUUP !!
mendengar alaram penyusup berbunyi , Yuldis
dan aku berlari ke luar. menuju ke pelabuhan. sesampainya disana, aku kaget.
melihat komandan berjabat tangan dengan orang asing.
kami bersembunyi hingga alaram tak lagi berbunyi.
satu jam berlalu. kami keluar dari gudang ikan,
tempat persembunyian kami di pelabuhan. kami kembali ke markas. Sesampainya
disana , markas kami seperti tak diserang oleh siapapun. Namun terlihat semua
anggota sedang mengerubungi seseorang. Itu komandan.
“ Seseorang , bunuhlah penyusup disini..” ucap
komandan dengan keras, sebelum dia menghembuskan nafas terakhir.
Semua anggota mulai mencurigai satu sama lain.
Namun belum ada yang berani menodongkan senjatanya satu sama lain.
“ jangan bodoh !! diantara kita tidak ada yang
menjadi mata-mata !!! “ ucap Noir
“kalau begitu , lebih baik kita meninggalkan ini
semua. Kita tak bisa bersama bila hanya ada rasa curiga. Lebih baik kita
berhenti” ucap yuldis, yang kemudian mengajaku keluar.
“Griselda, apa kau percaya kepada mereka semua ? “
bisik yuldis ditelingaku
“ iya , sepertinya mereka sedang diancam juga”
balasku dengan menyiapkan senjata yang belum di isi peluru tadi dengan peluru
yang kuambil dari Yuldis.
DOOOOORRR Aku merasa ada peluru menembus perutku. Tidak , ternyata itu Yuldis.
"BERSAMBUNG