Pendidikan,
kurikulum standar hafalan
Sekarang
itu katanya jaman demokrasi, dimana orang-orang bebas untuk berpendapat, lalu
kenapa pendapat kita di belenggu. Aneh gitu, ketika kita prioritaskan
kuantitas dari hasil jeri payah kita sendiri. Mencoba untuk menjadi yang
terbaik dari pandangan orang lain. Aneh gitu, kita belajar, tapi kita tak
demokratis.
Pahamnya
gini, kurikulum itu dibuat untuk apa ? apakah untuk patokan kepintaraan siswa ?
atau untuk patokan bahan ajar guru ? lalu apa pentingnya kurikulum ? mungkin kalau temen temen melihat paparan kurikulum dibawah, dibaca ya gaes ( padahal aku gak baca )
Kurikulum
itu ibarat arahan, pendidikan di indonesia itu diarahkan, sewajarnya kurikulum
itu harusnya sebagai arah, bukan sebagai patokan. Kurikulum yang terlalu
mengarahkan atau kurikulum yang arahanya gak jelas. Aku tak mau menganggap
sepele masalah pendidikan. Seorang manusia yang terdidik itu aset yang paling
penting di indonesia.
Aku
tak setuju bila murid dan sekolah harus di standarisasi. Dari pada sekedar
menilai, lebih baik kita berusaha untuk meningkatkan nilai tersebut. Mungkin
ibaratnya gini, ada tanaman jagung, padi, singkong, ketela, mangga, nanas,
kacang, jambu, apel mereka semua itu termasuk tumbuhan, pertanyaannya
begini, bagaimana kita bisa menentukan standarisasi untuk tumbuhan diatas ?
dari bentuk ? rasa ? berat ? harga ? jelas gak akan bisa. dan seharusnya peran
kurikulum bisa membuat arahan yang benar, apel ya jadi apel, jeruk ya jadi
jeruk. Menstandarkan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan kepada manusia.
Kesanya, manusia sendiri bukan ciptaan yang sempurna, harus distandarkan.
Aku
bukanya tak setuju jika teman-teman belajar begitu, tapi yang aku sesalkan
kenapa harus ada standarisasi untuk teman-teman belajar. Mungkin aku yang
berfikir terlalu liar, tapi aku merasa jika belajar sampai negeri china tidak
akan bisa terealisasi jika kita hanya diarahkan kurikulum. Kasaranya gini, jika
kita bisa menjawab soal 100 yang sesuai kurikulum dan benar semua, tentu saja kita
mendapatkan nilai sempurna, jika hanya bisa menjawab 70, maka nilainya hanya 70
saja, begitu seterusnya. Sampai ini apakah kalian tidak merasa aneh, kita
diberi nilai 100 karena bisa menjawab 100 soal, kita diberi nilai 70 karena
menjawab 70 soal ? pada dasarnya memang hampir semua sekolahan itu nilai-minded
(paham kan ? bingung cari bahasa yang mudah dicerna). Yap, nilai-minded,
meng-agungkan nilai diatas segalanya. Itu mengapa, banyak siswa yang melakukan
segala cara agar nilainya tinggi agar terlihat pintar. Dengan kata lain pintar
mengikuti arahan kurikulum.
Jika
kalian ingin membahagiakan kedua orang tua kalian dengan nilai silahkan saja,
tapi bahagiakan dengan jujur. Bisa dikatakan, aku termasuk orang pemalas bila
dijajarkan dengan yang lainya. Aku tak punya gairah sama sekali untuk belajar
bila tak begitu penting difikiranku. Terlepas, aku juga tidak cepat menangkap
pelajaran. Aku harus mencerna baik-baik agar bisa masuk diotak. Kombinasi yang
pas untuk selalu mendapat peringkat terakhir (curhat dikit keles).
Padanganku
sederhana, nilai cukup , tapi ilmu tinggi. Bukan nilai tinggi, ilmu
cukup. Aku bersyukur jika UN untuk tahun ini sudah tidak menjadi standarisasi
kelulusan. Tapi tetep saja, aku tidak akan setuju jika UN dilakukan untuk
memetak-metakan sekolah, mana sekolah yang baik, mana sekolah yang buruk, atau
apapun itu. Pada dasarnya, aku tidak setuju diadakanya ujian nasional. Dasar UN
itu apa ? menciptakan orang terdidik ? YAKIN ?
Lagi
pula, UN itu soal pilihan ganda, yup, standarisasi hafalan, hafalan cara cepat,
aku pun dulu begitu. UN pun menilai siswa, dalam artian hasil dia belajar,
proses mereka belajarpun tidak di nilai. Oke alasan itu memang klise, tapi ada
satu hal yang terlewat, proses belajar itu ditunjang oleh fasilitas mereka dalam
belajar, bisa berupa fasilitas meja & kursi, atau guru nya. Pertanyaanya ?
apakah sudah merata fasilitas belajar mengajar di seluruh indonesia ?
Sebenarnya
kalo diteruskan bisa jadi panjang, namun aku mau bilang, konflik di indonesia
itu cepat berubah, masalah datang tak di imbangi penyelesaian. Kayak mau renang
tapi gak mau basah. Kan susah. Konflik yang memanas selalu bikin kepala cenat
cenut dan jantung berdenyut. Lalu kenapa aku bilang begitu, aku hanya merasa
pendidikan sekarang hanya untuk dinilai, hanya untuk diberi angka. Terakhir,
aku ingin menutup dengan perkataan Neil degrasse,
“when
students cheat on exam, its because our school system values grades, more than
students value learning”
Artine
opo ? fikir dewe