“ayah , aku dapat
nilai 100 di matematika .. keren kan yah ?”
Aku berbaring disini bukan tanpa alasan. 3 bulan yang lalu ,
aku diberitahu oleh rumah sakit ini bahwa aku terkena kanker paru-paru.
“mas , mas yang tabah .. semoga kita bisa melewati ini bersama” kata istriku sambil menangis
“kenapa to ? ada apa?” kataku sambil terheran kenapa istriku menangis
“mas..... mas kena kanker paru paru” katanya sambil memegang tanganku erat erat
Seharusnya kaget adalah reaksi yang normal ketika aku di
beritahu oleh istriku sendiri bahwa aku terkena kanker paru-paru. Tapi entah
kenapa , aku tak kaget. Ya mungkin karna kebiasaanku merokok yang sudah seperti
zombie.
Sejak SMA aku sudah mulai merokok. Pulang sekolah aku selalu mampir di warung dekat sekolahku, warung dimana para perokok sepertiku nongkrong. Setidaknya ketika aku bersama teman-temanku , aku bisa menghabiskan 4-5 puntung rokok setiap harinya.
Kecanduanku ini tak berkurang , justru bertambah di setiap harinya. Sampai aku lulus kuliah dan berkerja di perusahaan swasta. Aku tetaplah perokok yang ulung , hampir setiap harinya lebih dari 5 bungkusan tembakau aku sedot. Bicara soal rasa tembakau itu , sebetulnya biasa saja , namun aku sudah kecanduan , aku tak bisa hidup 1 hari tanpa lintingan tembakau itu.
Hingga akhirnya aku menikah dengan seorang wanita yang membuatku mempunyai motivasi untuk tak merokok kembali , ya... istriku yang sangat cantik jelita ini. setidaknya , aku sudah bisa mengurangi kebiasaan merokok ku , sekarang aku bisa untuk tidak merokok 1 hari.
2 tahun kami menikah dan akhirnya aku dapat menghentikan kebiasaan merokok ku. Aku melakukan ini untuk anak ku sendiri, agar dia tidak menghirup asap yang aku sebul tanpa sengaja. Aku sangat bahagia dengan kehidupan yang aku jalani sekarang ini. yaa itu tadi yang aku harapkan sekarang ini , ketika berbaring dirumah sakit
2 tahun kami menikah, ternyata aku tetap tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok ku. Aku seperti zombie, kecanduan merokok. Dan pada akhirnya aku menyerah dengan kecanduan itu. Merokok ku malah semakin hebat ketika istriku hamil yang pertama. Akhirnya , istriku keguguran di bulan yang ke 3, aku menyalahkan diriku sendiri. Dan untuk sekali lagi , ku mencoba untuk mengurangi kebiasaanku merokok dengan mengikuti tips yang ada di internet.
Istriku hamil kembali, satu tahun setelah istriku keguguran waktu itu. Aku mengurangi kebiasaan merokok waktu itu, ketika istriku hamil untuk yang ke dua kalinya . Dan mencoba menjauh dari istriku ketika aku mau menghirup lintingan temabakau. Usahaku tak sia-sia , akhirnya anak ku yang pertama lahir. Seorang perempuan yang sangat mirip dengan ibunya.
Kebiasaan merokokku tetap tak hilang , aku tetap merokok. Paling tidak untuk sehari aku bisa menghabiskan 4 puntung rokok seperti saat aku masih duduk di bangku SMA. Hingga akhirnya aku dirumah sakit ini
“ iya nak, kamu sangat pandai... ayah sangat bangga kepadamu” kataku sambil berbaring dirumah sakit.
Aku merasa sangat bangga terhadap anak ku , dia anak yang
sangat ceria.
Anak dan istriku terkadang menghiburku di rumah sakit ini. mereka sering membuatku tertawa dengan menceritakan kegiatanya sehari-hari, maklum aku dirumah sakit dan istriku berkerja di sebuah restaurant menjadi pelayan. Sedangkan anakku masih duduk di sekolah dasar.
Anak dan istriku terkadang menghiburku di rumah sakit ini. mereka sering membuatku tertawa dengan menceritakan kegiatanya sehari-hari, maklum aku dirumah sakit dan istriku berkerja di sebuah restaurant menjadi pelayan. Sedangkan anakku masih duduk di sekolah dasar.
Hari-hari ku di rumah sakit ini , membuatku seperti zombie , bukan karna kecanduan, tapi karna sakit kanker paru paru yang aku terima. Uang tabunganku juga sedikit, mungkin karna setiap uang yang tersisa di dompetku tak aku masukan ketabungan , ya aku gunakan untuk membeli rokok.
Rasanya menyesal, akhirnya aku tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Dan aku keluar , untungnya sakit kanker yang ku derita masih belum terlalu berbahaya , tapi paling tidak aku selalu merasakan efeknya. Sekarang aku membuka toko kecil kecilan dari sisa tabunganku, aku berjualan dengan keadaan seperti ini. setidaknya , aku masih punya anak yang membuatku bangga. Aku seperti hidup , tapi tak bisa bernafas.
-cerpen ini ikut lomba “Diary sang Zombigaret”-
No comments:
Post a Comment