Tuesday, August 1, 2017

Yang salah bukan kurikulum, tapi pendidikanya

Pendidikan, kurikulum standar hafalan
Sekarang itu katanya jaman demokrasi, dimana orang-orang bebas untuk berpendapat, lalu kenapa  pendapat kita di belenggu. Aneh gitu, ketika kita prioritaskan kuantitas dari hasil jeri payah kita sendiri. Mencoba untuk menjadi yang terbaik dari pandangan orang lain. Aneh gitu, kita belajar, tapi kita tak demokratis.
Pahamnya gini, kurikulum itu dibuat untuk apa ? apakah untuk patokan kepintaraan siswa ? atau untuk patokan bahan ajar guru ? lalu apa pentingnya kurikulum ? mungkin kalau temen temen melihat paparan kurikulum dibawah, dibaca ya gaes ( padahal aku gak baca )

Kurikulum itu ibarat arahan, pendidikan di indonesia itu diarahkan, sewajarnya kurikulum itu harusnya sebagai arah, bukan sebagai patokan. Kurikulum yang terlalu mengarahkan atau kurikulum yang arahanya gak jelas. Aku tak mau menganggap sepele masalah pendidikan. Seorang manusia yang terdidik itu aset yang paling penting di indonesia.
Aku tak setuju bila murid dan sekolah harus di standarisasi. Dari pada sekedar menilai, lebih baik kita berusaha untuk meningkatkan nilai tersebut. Mungkin ibaratnya gini, ada tanaman jagung, padi, singkong, ketela, mangga, nanas, kacang, jambu, apel  mereka semua itu termasuk tumbuhan, pertanyaannya begini, bagaimana kita bisa menentukan standarisasi untuk tumbuhan diatas ? dari bentuk ? rasa ? berat ? harga ? jelas gak akan bisa. dan seharusnya peran kurikulum bisa membuat arahan yang benar, apel ya jadi apel, jeruk ya jadi jeruk. Menstandarkan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan kepada manusia. Kesanya, manusia sendiri bukan ciptaan yang sempurna, harus distandarkan.
Aku bukanya tak setuju jika teman-teman belajar begitu, tapi yang aku sesalkan kenapa harus ada standarisasi untuk teman-teman belajar. Mungkin aku yang berfikir terlalu liar, tapi aku merasa jika belajar sampai negeri china tidak akan bisa terealisasi jika kita hanya diarahkan kurikulum. Kasaranya gini, jika kita bisa menjawab soal 100 yang sesuai kurikulum dan benar semua, tentu saja kita mendapatkan nilai sempurna, jika hanya bisa menjawab 70, maka nilainya hanya 70 saja, begitu seterusnya. Sampai ini apakah kalian tidak merasa aneh, kita diberi nilai 100 karena bisa menjawab 100 soal, kita diberi nilai 70 karena menjawab 70 soal ? pada dasarnya memang hampir semua sekolahan itu nilai-minded (paham kan ? bingung cari bahasa yang mudah dicerna). Yap, nilai-minded, meng-agungkan nilai diatas segalanya. Itu mengapa, banyak siswa yang melakukan segala cara agar nilainya tinggi agar terlihat pintar. Dengan kata lain pintar mengikuti arahan kurikulum.
Jika kalian ingin membahagiakan kedua orang tua kalian dengan nilai silahkan saja, tapi bahagiakan dengan jujur. Bisa dikatakan, aku termasuk orang pemalas bila dijajarkan dengan yang lainya. Aku tak punya gairah sama sekali untuk belajar bila tak begitu penting difikiranku. Terlepas, aku juga tidak cepat menangkap pelajaran. Aku harus mencerna baik-baik agar bisa masuk diotak. Kombinasi yang pas untuk selalu mendapat peringkat terakhir (curhat dikit keles).
Padanganku sederhana, nilai cukup , tapi ilmu tinggi. Bukan  nilai tinggi, ilmu cukup. Aku bersyukur jika UN untuk tahun ini sudah tidak menjadi standarisasi kelulusan. Tapi tetep saja, aku tidak akan setuju jika UN dilakukan untuk memetak-metakan sekolah, mana sekolah yang baik, mana sekolah yang buruk, atau apapun itu. Pada dasarnya, aku tidak setuju diadakanya ujian nasional. Dasar UN itu apa ? menciptakan orang terdidik ? YAKIN ?
Lagi pula, UN itu soal pilihan ganda, yup, standarisasi hafalan, hafalan cara cepat, aku pun dulu begitu. UN pun menilai siswa, dalam artian hasil dia belajar, proses mereka belajarpun tidak di nilai. Oke alasan itu memang klise, tapi ada satu hal yang terlewat, proses belajar itu ditunjang oleh fasilitas mereka dalam belajar, bisa berupa fasilitas meja & kursi, atau guru nya. Pertanyaanya ? apakah sudah merata fasilitas belajar mengajar di seluruh indonesia ?
Sebenarnya kalo diteruskan bisa jadi panjang, namun aku mau bilang, konflik di indonesia itu cepat berubah, masalah datang tak di imbangi penyelesaian. Kayak mau renang tapi gak mau basah. Kan susah. Konflik yang memanas selalu bikin kepala cenat cenut dan jantung berdenyut. Lalu kenapa aku bilang begitu, aku hanya merasa pendidikan sekarang hanya untuk dinilai, hanya untuk diberi angka. Terakhir, aku ingin menutup dengan perkataan Neil degrasse,
“when students cheat on exam, its because our school system values grades, more than students value learning”
Artine opo ? fikir dewe


No comments:

Post a Comment